Pages

"Pendidik" Berkarakter

Minggu, 08 September 2013


Banyak orang mengatakan bahwa intelektual yang membuat seseorang menjadi ilmuan hebat. Mereka salah. Yang membentuk ilmuan hebat adalah KARAKTER!
(Albert Einstein)

Melihat realita yang ada sekarang ini. Manusia didorong untuk berlomba dengan peradaban. Hedonisme terlihat semakin menjerumuskan masyarakat dalam hal-hal negatif. Pondasi yang kuat sangat diperlukan untuk menyeimbangkan aspek-aspek kehidupan dan membentuk karakter yang nyata, agar dapat menopang eksistensi kita di tengah era globalisasi.
            Untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tangguh bukan hanya bagaimana agar mereka mampu berpikir, menjadi pelakon dalam kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan melainkan bagaimana pendidik membentuk SDM secara lebih komprehensif salah satunya adalah karakter SDM.
Karakter ibarat akar pada sebuah pohon. Menjalar dan mencengkeram dengan erat di antara lapisan tanah,. Mampu membuat pohon tumbuh, berdiri tegak dan akan semakin kuat jika dirawat dengan baik.
Karakter adalah modal keberhasilan dan salah satu penunjang kemajuan bangsa. Manusia yang berkarakter mampu bertahan serta menghadapi berbagai tantangan.
            Menyadari esensi dari keberadaan manusia berkarakter. Maka pemerintah mulai menggalakkan penerapan pendidikan berkarakter pada jenjang pendidikan formal. Nyatanya, inti dari keberhasilan pendidikan karakter sebenarnya bukan terletak dari sejauh mana kurikulum dan pendidikan berkarakter tersebut diimplementasikan dalam pendidikan. Tapi, seperti apa karakter dan sosok para pendidik dalam mendidik putra-putri bangsa.
           Konsentrasi kita selama ini tertuju pada pemerataan pendidikan berkarakter tanpa memperhatikan bagaimana pendidikan berkarakter tersebut diterapkan oleh para pendidik. Saling menyalahkan sering kali terjadi, ketika carut-marut dunia pendidikan kita kembali tampak. Padahal yang dibutuhkan adalah sinergisnya hubungan tri pusat pendidikan serta kesadaran dari setiap pendidik.
Bagaimana seorang anak didik mampu menjadi pribadi yang bertanggung jawab apabila pendidik sendiri tidak mengerti akan arti tanggung jawab. Karena itu, idealnya harus terlihat sosok guru yang bertanggung jawab, orangtua yang bertanggung jawab dan pemerintah yang bertanggung jawab. Begitupun dalam membangun karakter-karakter lainnya.
            Mendidik merupakan tugas bersama. Namun, guru lah  yang memegang peranan terpenting dalam pendidikan. Guru dituntut untuk membentuk genarasi yang intelek dan berkarakter.  Seorang pakar pendidikan Belanda Dr. G.J. Nieuwenhuis mengatakan “Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.” Dua kata kunci untuk kemajuan bangsa yakni “guru” dan “pengorbanan”. Maka, awal kebangkitan bangsa harus dimulai dengan mencetak “guru-guru yang suka berkorban.”
          Pengorbanan, Jika kita berpikir secara idealis guru memang selayaknya diidentikkan dengan pengorbanan. “Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa” seperti itu lah potongan lagu kebangsaan para guru (Himne Guru). Guru sebagai pelita dalam kegelapan, guru sebagai embun penyejuk dalam kehausan. Betapa mulianya seorang guru. Tapi yang terjadi sekarang, realitas mulai menggeser makna dari lirik-lirik lagu tersebut. Guru seperti kehilangan jati dirinya. Hanya memikirkan bagaimana menggugurkan tanggung jawab tanpa mencari cara untuk menjalankan tanggung jawab tersebut dengan baik, tentunya melalui karakter-karakter kependidikan.  
Guru harus memiliki tekad dan niat yang tulus untuk menyalamatkan generasi bangsa bukan sekedar meraup keuntungan tapi menjalankan amanah dengan penuh kesadaran. Dalam bukunya Menjadi Guru Berkarakter (2011), Dr. Uhar Suharsaputra menyampaikan bahwa Guru Berkarakter sesungguhnya  bukanlah sesuatu yang bersifat to be or not to be, melainkan a process of becoming. Menjadi guru berkarakter adalah orang yang siap untuk terus-menerus meninjau arah hidup dan kehidupannya serta menjadikan profesi guru sebagai suatu kesadaran akan panggilan hidup. Guru berkarakter senantiasa berusaha dan berjuang mengembangkan aneka potensi  kecerdasan yang dimilikinya.
Guru sebisa mungkin memberikan contoh, teladan dan nilai-nilai spiritual untuk mengokohkan karakter anak didiknya. Karakter yang telah ternanam sejak dini melalui contoh dan pembiasaan akan melekat pada diri anak.
            Oleh sebab itu, sebelum menanamkan pendidikan berkarakter terlebih dahulu guru harus memiliki karakter yang kuat. Dalam bukunya, Guru yang Berkarakter Kuat, (2010). Hawari Aka mengemukakan lima poin yang menunjang kuatnya karakter seorang guru yakni the power of niat, the power of learning, the power of motivasi, the power of empati dan the power of komitmen.
The power of niat, niat menjadi sentral bagi seluruh aktivitas manusia. Tuhan tidak menilai perbuatan manusia dari lahirnya, namun dari sesuatu yang tersembunyi yaitu dari niat dan motivasinya.
The power of learning, learning dalam hal ini memiliki tiga pilar yakni pertama, pertumbuhan yang mana pendidikan harus mampu menciptakan orang-orang yang dewasa. Orang-orang yang mampu bertanggung jawab untuk orang lain. Kedua, pengembangan yakni keberhasilan suatu proses pembelajaran ditandai mampunya pendidikan menciptakan orang-orang yang sukses (orang sukses itu membagi kesuksesannya pada orang lain). Ketiga, pemberdayaan yakni melihat potensi yang ada (tidak menyamaratakan potensi) atau keunikan dari tiap anak kemudian memotivasi agar anak jauh lebih berkembang. Karena itu, guru harus bisa menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan dinamis sehingga learning itu berubah menjadi the magic of learning yang memberikan kekuatan yang luar biasa pada seseorang dalam belajar.
The power of motivasi, motivasi yang ditiupkan ke dalam jiwa seseorang akan mempengaruhi jiwa orang tersebut dan pada akhirnya membentuk orang itu menjadi apa yang ia kehendaki. Motivasi akan membangkitkan kepercayaan diri serta memberikan dorongan yang sangat kuat kepada jiwa-jiwa yang memberikan ruang untuknya.
The power of empati, orang yang kita hormati dan hargai sering kali menjadi teladan bagi kita. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” ungkapan tersebut menandakan bahwa segala pola tingkah laku guru adalah magnet yang akan menyedot perhatian murid. Bahkan respon dan kata-kata guru yang terlontar saat menghadapi murid juga sangat besar pengaruhnya karenanya menghormati murid merupakan cermin akhlak yang terpuji dan menghargai jerih payah murid merupaka wujud motivasi yang kita berikan kepada meraka (respek).
The power of komitmen, pendidik harus memiliki kesadaran akan tanggung jawab dan memegang amanahnya. Memiliki kesadaran dan keinginan yang kuat untuk menuntaskan tugas serta menjadikan murid-muridnya sebagai murid-murid yang terbaik  
Namun, dari serentetan uraian di atas, ada satu kata yang amat penting dalam mendidik yakni “ikhlas”. Pendidikan memang membutuhkan keikhlasan.
“Kami ikhlas mendidik kalian dan kalian ikhlas kan pula niat untuk mau dididik”. Keikhlasan adalah perjanjian tidak tertulis antara guru dan murid. Keikhlasan bagai kabel listrik yang menghubungkan guru dan murid. Dengan kabel ini aliran ilmu mengucur. Sementara aliran pahala yang deras terus melingkupi para guru yang budiman dan murid yang khidmat (dikutip dari sistem pendidikan Pondok Madani Gontor dalam novel Negeri 5 Menara).
Ketika kelima kekuatan tersebut telah menjadi pegangan para tenaga pendidik dan dijalani dengan ikhlas, insyaallah pendidikan di Indonesia akan mewujudkan Indonesia yang lebih berkarakter.
“Selamat berjuang para pendidik dan generasi muda calon pendidik!”

(Opini, Tribun Timur) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

WHAT TIME IS IT?

Tags

Most Reading

VISIT

Followers