Pages

MEMANGKU BULAN

Rabu, 08 Juli 2015



            Malam itu aku diserang oleh kepungan meteor. Satu persatu dari meteor itu menghunus tubuhku dengan kilatan cahayanya. Ternyata, di belahan planet yang disebut bumi, lucutan-lucutan meteor dinantikan oleh manusia. Mereka bersorak-sorai. Anak-anak tekuk dalam do’a, begitupun yang tua memanjatkan harapan-harapannya. Mereka percaya bahwa meteor yang melesat; bintang jatuh adalah waktu yang tepat untuk mencuap semoga.
            Seorang anak kecil bertubuh gempal berjalan terseok-seok mengejar lesatan yang begitu cepat ̶ malam itu adalah malam ke 10 dia berdo’a di bawah bintang jatuh. Semenjak ibunya bercerita bahwa kita bisa menanam harapan pada bintang jatuh, dia selalu menantikan malam-malam dengan kilatan cahaya pengharapan.
            Dia menuliskan semua harapan-harapannya pada buku dengan sampul lusuh ̶ bergambar diriku yang sudah tak utuh; serupa diriku yang sabit karena sobek. Setiap kali dia berdo’a di malam langka itu, dia selalu mencoret do’a yang telah dia panjatkan. Namun, anehnya dari 10 doa yang telah dia tunaikan malam itu tak ada satu pun yang terwujud.
            Sesekali dalam mimpi setelah berdo’a pengharapannya datang menyapanya, kemudian dia terbangun dengan kenyataan yang kembali harus dia hadapi sendiri. Beberapa hari yang lalu; kali terkahir ibunya datang lalu pergi lagi. Bukan salah ibu, bukan pula salahnya jika sendiri, dan tetap saja dia mempercayai kata-kata wanita bergincu merah itu tentang do’a dan bintang jatuhnya.
 

WHAT TIME IS IT?

Tags

Most Reading

VISIT

Followers