Pages

Jejak: Season II

Kamis, 13 Juni 2013

Dapat pelangi, ini diambil waktu saya di culik sama orang ke tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya.

Tanjung Bira. The Romps!
















Salah satu foto yang paling saya sukai adalah foto ini!
 (salah satu foto terbaik, bukan karena objeknya tapi background-nya itu lohhh..)


\



MTGF 2012 dan anak panti Rizkullah Karuwisi beserta kakak-kakak relawan STB.

Ini Sawah belakang rumahnya nenekku di Barru (kampungnya mama').


Foto ini diambil waktu kesasar di dekat bukit. Habis menikmati perjalanan melintasi bukit belakang posko KKN. Kejadian ini sempat bikin heboh tuan rumah karena kami belum kembali juga sampai malam hari, untung bisa pulang.




Liat anak-anak manjat di mobil tank pengangkut air dekat rumah nenek. Jadi tertarik untuk mencoba. Begini lah hasilnya. ckckckck


Kalau ini walaupun gelap (sengaja) tapi salah satu foto terkren. Masih saja tentang Bira.

Bukit lagi.. huaahh suka sekaliii.. ada kejadian seram (bukan mistis) di balik foto ini.












Kemana pun kita menjelajah, ujung dari itu semua kembali ke Refleksi. Merenungkan apa yang telah kita lalui dan mengagungkan segala kekuasaan Allah SWT.




Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman)




Masih ada beberapa koleksi dokumentasi lainnya 
yang tidak bisa ditampilkan satu-persatu.

Jejak: Season I

Tempat ini betul-betul kreen, The Bestie Romps!

The Bestie Romps dan beberapa pejabat negara yang hobinya kuliah Mata Kuliah "Kantin" 6 SKS 
(Aktivis kampus katanya). Hehehe!

Menjajaki tepi sawah, ngebolang, anak-anak desa (seolah-olah)!

  Anak hilang!




 Jalan bareng Nisa Tayibu, menjemput senja. Eh, fotonya nongol juga di bawah. Tuh!














 
Icha Tayibu!

Seriuska ini de'.. gambarku tidak jauh beda sama gambar kalian! 

Kalau yang ini menikmati Fly Over melayang-layang di kepala! (Malamnya, untuk terakhir kalinya ayah sms menanyakan keadaanku, mengucapkan kalimat "Ya sudah, shalatmi baru bobo'!") I really miss you n love you Dad! You are the best father forever. Allah sayang Ayah.

Hasil kerja keras menggambar di Sanggar Kelapa (emang dari dulu tidak punya bakat menggambar) hmmm...



"I REALLY LIKE THE ADVENTURE!"




Bukan Ularku, Ular pinjaman. Hehehe..


Sanggar Kelapa dan Eksotisme Kelurahan Lakkang

Malam kian mendekati pagi. Selepas merampungkan skripsi yang entah kapan rampungnya. Tiba-tiba rindu Sanggar Kelapa. Eksotisme Lakkang terbayang-bayang di benakku, pepohonan, empang, sungai, sawah, pemukiman yang padat namun tertata rapi, pohon bambu dan anak-anak yang berlarian. Ah, rindu anak-anak itu. Anak-anak memang selalu saja mencerminkan sosok ketulusan dan kepolosan yang selama ini tidak bisa temukan pada orang dewasa yang terkadang penuh dengan kepicikan.
Bukan hal yang terlalu berat bagiku untuk menghampiri mereka walaupun air membentangkan jarak untuk aku dan mereka, yah.. untuk sekedar berbagi kebahagiaan apalagi setiap minggunya Sanggar Kelapa selalu memberikan kejutan. Aku pun kembali teringat suatu hari ketika aku menerima tawaran mengejutkan sebelum aku mengunjungi sanggar kelapa. Semoga Sanggar Kelapa selalu membuka ruang untukku (Kode keras untuk Divisi Humas dan Divisi Pembelajaran Sanggar Kelapa).

Menikmati Abstraknya Kebenaran

Selasa, 11 Juni 2013

Biarkan orang lain mengoceh sinis karena terkadang mereka tidak tahu apa yang kita tahu. Kita hidup bukan dari ocehan orang lain, tapi kita memang seringkali belajar hidup dengan ocehan yang dilandasi ketidaktahuan. Jika tak satu pun bersamamu, cukuplah Allah.

Suatu ketika di dalam satu lingkaran (red: perkumpulan) kau sedang  memperjuangkan kebenaran dan kejelasan. Di saat itu pula lah kau menemukan situasi dimana kau tak mampu membedakan kawan dan lawan. Bukan karena kau tak tau mana kawan mu, tapi karena kau tak tahu dimanakah diantara mereka yang menjadi lawanmu. Karena semua sama adalah kawan.
Saat kau memulai kata. Mata-mata mulai menatapmu, kau tetap melanjutkan kata demi kata yang kau pikirkan dengan sebaik mungkin. Tapi, tetap saja ada pertentangan makna yang dibuat salah satu di antara kawan. Mungkin saja lawan, entahlah.. semua belum bisa terbaca.  
Lontaran secara halus pun mulai berdatangan silih berganti. Menyakitkan memang, tapi kau mencoba menantang kesakitan itu. Menghadapinya dengan tenang, seperti ketika kau di dzalimi dahulu. Kau berkata "Kadang kita butuh ocehan pedas untuk belajar tentang hidup. Tapi, kita tak hidup dari ocehan-ocehan itu!" saat kau menceritakan ini pada seseorang kau pun berkata "Ayah ku pernah berucap, satu orang berusaha menjatuhkanku. Akan ada seribu orang yang mengangkatku!"
Sebuah dialektika memang ketika seseorang menyimpan kebenaran dan kebaikan (teringat kata seseorang) maka diantara 10 orang mungkin hanya satu yang bersamamu atau bahkan 10 orang itu malah bergotong royong untuk menggoyahkan kekokohan peganganmu.
Ketika mereka berucap, kau pun mendengarnya dengan lapang dada, sampai-sampai kau melupakan apa yang seharusnya kau katakan untuk menyelamatkan dirimu. Saat usai benakmu kembali menemukan sesuatu "terkadang mereka tidak tahu apa yang kita tahu!" kau pun teringat tentang kutipan pada sebuah film dan berkata padaku "terkadang kejelasan terlihat tidak jelas" aku mengerti maksudmu. Memang benar adanya ketika tak seorang pun bersamamu cukuplah Allah, karena suatu saat Allah akan menunjukkan kejelasan yang bersembunyi di balik ketidakjelasan itu.

SANGGAR KELAPA: Melukis Sore dengan Pasir

Senin, 10 Juni 2013


Semangat tak terkira mengantarkanku di hari minggu saat pagi bergerak menemui siang. Sudah beberapa kesempatan kulewatkan untuk mejumpai keadaan agar jatuh pada waktunya di tempat itu. Ketika siang menjelang rentah aku telah sampai di dermaga untuk “berlayar” (istilah yang sering kusebut ketika harus menyeberangi sungai menuju tempat itu).
           Sekitar 20 menit menghabiskan waktu mengarungi bentangan air, aku pun menginjakkan kaki di kelurahan (red: Lakkang) yang menurutku cukup unik. Bukan pertama kalinya aku ke sana tapi tetap saja tempat itu membawa kesan eksotik. Mendung pun menjemput kedatanganku. Menemaniku menanti waktu untuk berhadapan dengan sosok-sosok mungil di tempat itu.
Sanggar Kelapa, mereka menyebutnya begitu. Selang beberapa menit setelah aku datang, Kakak Ikhsan (pengajar tetap di Sanggar kelapa) pun tiba. Sembari menanti waktu belajar kami melakukan briefing untuk mempersiapkan dan mengolah konsep belajar untuk teman-teman kecil. 

Melukis dengan pasir, itulah tema untuk hari ini. Kami mulai mempersiapkan bahan ala kadarnya untuk melukis dengan pasir kemudian bergegas menuju lokasi. Awalnya kami berpikir kemungkinan hari ini  tidak ada anak-anak sanggar yang akan datang karena sejak tiba di Lakkang mendung telah menjamu kami. Ternyata dugaan kami salah, antusias mereka masih nampak untuk menyambut kejutan dari kakak-kakaknya. Walau separuh dari mereka tidak hadir, sore itu tetaplah menyenangkan. Celotehan-celotehan nyaring dan polos dari mereka sangat membahagiakan kami, terutama “saya” yang untuk pertama kalinya bertamu ke rumah mereka.

Sebelum melukis anak-anak sanggar dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok di dampingi olehku. Mereka pun memulai kegiatan melukis dengan pasir. Tak mau ketinggalan kakak-kakaknya ikut melukis, terutama Kakak Ujhe semakin menunjukkan eksistensinya dalam gambar-menggambar. Seru, melukis dengan pasir mengembangkan kreativitas anak-anak tersebut. Melukis dengan pasir menunjukkan sisi berbeda dari sebuah karya seni berupa gambar, bahwa gambar bisa tercipta dari sesuatu yang sederhana namun dapat menghasilkan nilai seni yang jauh lebih tinggi.


Cerahnya tawa dan kebahagiaan sore itu seakan menantang hujan yang diselimuti mendung. Tak terasa waktu bergulir. Bahagia, itulah yang terukir dalam catatan saya dan gulita mengantar saya mengarungi lagi bentangan air untuk kembali pulang. Terima kasih untuk waktu yang singkat namun sangat berharga.
Sanggar Kelapa, tawa dan kebahagiaan sore menjelang petang.

Profil: Ibu Een (Pendidikan Berbasis Kasih Sayang, Pesan untuk Para Calon Pendidik)


“Pendidikan berbasis kasih sayang. Saya tidak punya apa-apa yang bisa diberikan selain kasih sayang”
Itulah kutipan dari sosok yang tak pernah mengenal lelah ditengah keterbatasannya. Ibu Een mengabdikan dirinya untuk orang banyak saat kita lupa akan arti kesyukuran, saat kita tidak tahu kata ikhlas, saat kita tak mengenal kata peduli.
Di era modern ini kita terkadang tak mampu lagi membedakan sosok pendidik dan sosok yang tak terdidik (miris memang) tapi, itulah realita yang harus kita saksikan. 
Siapakah Ibu Een? Dialah Oemar Bakriwati bahkan melebihi Oemar Bakri. Ibu Een alumni SPG Negeri Sumedang dan kemudian melanjutkan ke IKIP Bandung mengambil jurusan psikologi pendidikan dan bimbingan. Ibu Een terserang penyakit Rheumatoid arthritis (radang sendi) sejak masih duduk dibangku kuliah. Sudah 28 tahun Ibu Een mengalami lumpuh total namun selama itu pula beliau mengabdikan hidupnya demi kecerdasan anak-anak bangsa.
 
Walaupun gagal menjadi guru di sekolah karena kelumpuhannya tapi di luar pendidikan formal beliau berjuang dengan penuh ikhlas, mendidik dengan kasih sayang. Walaupun hanya dengan berbaring tapi beliau tetap punya semangat untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Tanpa mengeluh beliau mendidik, dan tanpa mengharap apapun selain ridho Tuhan beliau berbagi pengetahuan bersama malaikat-malaikat kecil yang ada di sekelilingnya.

Peraih anugerah Liputan6 Award ini, tak punya apa-apa untuk dibagikan selain kasih sayang sebagai bentuk kepedulian terhadap orang lain. Jika kita kembali pada kenyataan, sosok pendidik seperti Ibu Een mungkin masih bisa dihitung jari. Masalah-masalah pendidikan yang ada sekarang ini bukan kah bercermin pada kasih sayang dalam pendidikan yang jarang kita temui.
Pendidikan memang harus dilandasi dengan hati seperti yag dikatakan pepatah apa yang kau semai itu pula yang engkau tuai. Begitu pun dalam mendidik, apa yang kita berikan akan kembali pula imbasnya pada genarasi-generasi berikutnya. 
Mari kita kembali refleksikan, siapkah kita menjadi pendidik yang ikhlas, niat yang tulus dan mengedepankan pendidikan berbasis kasih sayang?
 

WHAT TIME IS IT?

Tags

Most Reading

VISIT

Followers