Pages

Satu

Kamis, 30 Januari 2014

"Satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan" (Dee Lestari)


Itulah mengapa aku selalu menyimpan satu saja. Ketika datang dua maka aku lebih memilih satu. Ketika memberi pun aku akan memberi satu. Satu untuk saat ini. Kenapa? Karena satu datang, satu kuberi akan genap menjadi dua. Dua dari satu kemudian melebur menjadi satu. Seperti sepasang sayap yang ada pada seekor merpati. Bukan sepotong, Aku lebih suka satu. Karena dengan satu aku masih memiliki ke-diri-an, tapi akan melebur pada kedirian yang lain. Jika sepotong? Dia tak akan menjadi utuh ketika tak ditemukan sepotong. Tidak, tidak. Aku tak suka sepotong. Aku ingin seperti dua buah magnet. Aku ingin seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Yah. Ke-aku-an. Satu dan satu tapi menggenapkan.

Bagaimana ketika satu tak mampu menjadi genap? Itulah mengapa hanya satu. Aku dapat mengambil satu dan menyimpan satu. Bagaimana ketika satu di titik yang berbeda? Jika ada jalan maka satu dan satu akan bermuara pada titik yang hanya satu. Mari kita mencoba untuk membicarakan satu.

Satu dan Satu. Itulah genap.

"Pertama" 2014

Rabu, 01 Januari 2014

          Hey Shinichi! Hari ini kita banyak membicarakan kata "pertama". Yah, Salah satunya karena hari ini, hari pertama di tahun 2014. Kucoba menuliskan semuanya untuk pertama--di tahun 2014 dalam lembaran yang berbeda. Kau tahu kenapa? Karena aku seringkali berbicara tanpa berpikir; katamu. Makanya dari pada salah bicara, aku bercerita saja pada lembaran kosong. Dari rentetan dialektika 2013 kemarin aku ingin melipat semuanya dan menyimpulnya agak tak berceceran kemudian menghasilkan sedikit ungkapan--maaf kalau lagi-lagi aku terlalu banyak bicara. Aku punya banyak misi di depan, Kau pun demikian. Lebih tepatnya kita harus menyelesaikan semua teka-teki yang ada di depan. Aku punya mimpi yang berat tapi Kau punya tanggung jawab yang lebih berat. Tapi, jujur saja aku berat menerima kenyataan.
          Di awal semuanya aku masih saja bingung dengan keadaan. Kita seperti berada di antara batu besar. Huh! Jauh, jauh, jauh aku mulai mencoba menerima semua yang terjadi di tahun 2013. Kulipat dan kurenungkan. Kau selalu mengingatkan kala aku terbentur, begitupun kala kau terbentur. Tapi satu hal yang lebih berat ketika aku terbentur denganmu. Kau selalu memecahkan misteri-misteri; tak terkecuali misteriku. Tapi, hal yang sudah jelas-jelas nampak (red: batu besar) tak mampu kita pecahkan. Butuh--kita selalu memegang hal itu. Tak mungkin dihancurkan.

Hey!

Minggu, 15 Desember 2013

Kita terlalu sering berbicara tentang hujan, bukit, pantai apatah lagi senja.
Dapat kusimpul cerita.
Kita selalu saja ingin berada pada jejeran bunga-bunga yang wangi
Kita telah terbiasa merasakan sepoi angin yang sejuk
Kita tak jarang dimanjakan oleh keindahan yang manis
Kali ini aku ingin mengajakmu menepi kemudian berdiam di tengah terik matahari.
Berjalan di tengah pengapnya udara.
Coba pikirkan kembali!
Apa kau masih tertarik?
Berapa lama kita bisa bertahan?
Aku tertawa. Kau tertunduk lesu.
Dan ini bukan surga.
Tapi bukan berarti neraka.
Hey, Kau!

15.30/15-12-13


Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana?

Sabtu, 23 November 2013

Oleh: KH. Musthofa Bisri 
 
Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir

 

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai


Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Tentang Hidup

Minggu, 06 Oktober 2013

       Lama tak menjumpai diriku dalam cerita. Kali ini aku akan bercerita. Dua minggu menghilang dari peredaran dan berbulan-bulan tenggelam dengan keadaan. Aku banyak belajar tentang hidup. Walaupun aku masih berada dalam fase vakum. Dulu aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Lupa melakukan sesuatu untuk ayah, mama dan adik-adik. Tapi kini hidup drastis berubah. Aku terkadang diam bukan karena tak ingin melakukan apa-apa. Terkadang aku harus memilih. Seperti yang pernah orang katakan padaku bahwa "hidup itu untuk bergerak" dan setiap pilihan memiliki konsekuensi tinggal bagaimana pintar-pintarnya kita meminimalisir konsekuensi yang ada. Aku mulai menemukan diriku. Yah, menemukan diriku dalam diriku sendiri. Belajar hidup dengan segala konsekuensi. Sulit. Tapi bahagia ternyata jika kita mampu berpijak di

Laki-Laki Penghuni

Selasa, 24 September 2013



Katakan sebelum subuh, Kau akan datang
Memperdengarkan suara-suara malaikat
Menyebar gelombang bunyi yang menggerakkan
Membisikkan sayup-sayup lembut yang menggetarkan

Katakan selepas magrib, Kau akan kembali
Mengetuk pintu yang tak pernah lagi terketuk
Di jalan yang tak lagi di basuh dengan tumpuan kaki
Kepada rumah yang tak lagi dihuni oleh laki-laki

Katakan diawal Isya, Kau akan ada
Mendendangkan dzikir di sudut sunyi
Menguntai do’a di tepi damai
Menjamu malaikat dengan wangi-wangi yang manja

Rindu (Not Mati)



Melodi yang sangat menyayat
Ketika berakhir pada not yang mati
Bernyanyi rasa, mengalunkan bait
Bilakah Kau tahu.
Satu persatu not bergerak semakin cepat
Seperti kejaran tarikan nafas
Beradu memecah hening
Terkunci mati ketika hela terhenti di ujung
Bukan untuk tiada
Tapi kalimat bertitik pada diam
Selepas itu. Binasa termakan rindu.
 

WHAT TIME IS IT?

Tags

Most Reading

VISIT

Followers