Pages

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

MEMANGKU BULAN

Rabu, 08 Juli 2015



            Malam itu aku diserang oleh kepungan meteor. Satu persatu dari meteor itu menghunus tubuhku dengan kilatan cahayanya. Ternyata, di belahan planet yang disebut bumi, lucutan-lucutan meteor dinantikan oleh manusia. Mereka bersorak-sorai. Anak-anak tekuk dalam do’a, begitupun yang tua memanjatkan harapan-harapannya. Mereka percaya bahwa meteor yang melesat; bintang jatuh adalah waktu yang tepat untuk mencuap semoga.
            Seorang anak kecil bertubuh gempal berjalan terseok-seok mengejar lesatan yang begitu cepat ̶ malam itu adalah malam ke 10 dia berdo’a di bawah bintang jatuh. Semenjak ibunya bercerita bahwa kita bisa menanam harapan pada bintang jatuh, dia selalu menantikan malam-malam dengan kilatan cahaya pengharapan.
            Dia menuliskan semua harapan-harapannya pada buku dengan sampul lusuh ̶ bergambar diriku yang sudah tak utuh; serupa diriku yang sabit karena sobek. Setiap kali dia berdo’a di malam langka itu, dia selalu mencoret do’a yang telah dia panjatkan. Namun, anehnya dari 10 doa yang telah dia tunaikan malam itu tak ada satu pun yang terwujud.
            Sesekali dalam mimpi setelah berdo’a pengharapannya datang menyapanya, kemudian dia terbangun dengan kenyataan yang kembali harus dia hadapi sendiri. Beberapa hari yang lalu; kali terkahir ibunya datang lalu pergi lagi. Bukan salah ibu, bukan pula salahnya jika sendiri, dan tetap saja dia mempercayai kata-kata wanita bergincu merah itu tentang do’a dan bintang jatuhnya.

Mawar Pemuja Edelweis

Minggu, 08 September 2013


Berusaha menembus derai angin. Melaju sekuat tenaga. Melejit di antara terpaan debu-debu yang berniat menumbangkanku. Semakin kukepakkan, rasanya aku semakin sulit untuk menyeimbangkan diri. Aku tidak tahu sudah berapa jauh aku menjelajah, aku tak mengerti rute apa saja yang telah kulalui. Yang aku tahu, aku adalah seorang penjelajah. Melayang, menepi, melaju, dan menari-nari di antara celah langit dan bumi untuk mencari sesuatu yang baru.
            Aku letih, kuputuskan untuk berhenti sejenak. “Tapi dimana?” pertanyaan itu mengambang dalam benakku. Kusaksikan bangunan-bangunan yang begitu megah di sekelilingku. “Uh, terik menyengat tubuhku. Berkas cahayanya semakin menyilaukan mataku. Aku tak tahan lagi.” Aku pun menerawang, mencari tempat untuk bernaung, yang akan membuatku agak lebih nyaman.

Semoga Indonesia Mencintaimu

Jumat, 06 September 2013


Deru angin melambaikan kerudung jingganya. Membawanya berlalu. Hanya menyisakan jejak dan seseorang yang mungkin saja belum mengenali wajah bermata sayu itu.
Lima belas tahun, lama untuk menyulam benang-benang waktu. Memendam sebuah harapan. Asa untuk dapat merangkul, menatapnya lekat-lekat dan memeluk tubuh hangatnya.
          Kabar tak lagi pernah menyentuh telinga. Hanya surat yang telah usang, tersusun dari untaian butir-butir syair syahdu. Sebagai obat penenang.
Kini hari telah beranjak dewasa. Masih terpaku di antara inai. Keletihan masih berbicara, merongrong meminta agar lepas dari belenggu. Sisa-sisa pacuan hidup hingga petang. Penyambung tali-tali hentakan nafas.
 

WHAT TIME IS IT?

Tags

Most Reading

VISIT

Followers