Pages

Free in my Day

Kamis, 03 April 2014

Aku lelah, bukan untuk berhenti hanya butuh spasi agar alunan terdengar lebih bermelodi.
I'm coming freeday. Just my freeday. Free yang kudapat dan my day yang kuciptakan sendiri.
Hari ini bukan tanggal merah bukan pula libur tapi aku memilih untuk kebebasan sendiri.
Bukan lepas tanggung jawab tapi sedikit sentuhan ancang-ancang untuk lompatan yang lebih jauh (mungkin).

-Aku sedikit kelelahan-

Bukan Saya

Minggu, 16 Maret 2014

Saya tidak bisa.
Riak-riak tawa memuakkan
Saya bukan teman.
Memang. Karena saya tidak mencari seorang ego
Saya adalah saya.
Maka dari itu, kamu tak mampu mengubah saya
Saya adalah kebencianmu
Mungkin. Karena kau sendiri tak mampu menyayangi dirimu
Saya adalah api
Kau adalah air
Karena kau tak mampu menerima.


16 Maret 2014 (10.00 Wita)

Satu

Kamis, 30 Januari 2014

"Satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan" (Dee Lestari)


Itulah mengapa aku selalu menyimpan satu saja. Ketika datang dua maka aku lebih memilih satu. Ketika memberi pun aku akan memberi satu. Satu untuk saat ini. Kenapa? Karena satu datang, satu kuberi akan genap menjadi dua. Dua dari satu kemudian melebur menjadi satu. Seperti sepasang sayap yang ada pada seekor merpati. Bukan sepotong, Aku lebih suka satu. Karena dengan satu aku masih memiliki ke-diri-an, tapi akan melebur pada kedirian yang lain. Jika sepotong? Dia tak akan menjadi utuh ketika tak ditemukan sepotong. Tidak, tidak. Aku tak suka sepotong. Aku ingin seperti dua buah magnet. Aku ingin seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Yah. Ke-aku-an. Satu dan satu tapi menggenapkan.

Bagaimana ketika satu tak mampu menjadi genap? Itulah mengapa hanya satu. Aku dapat mengambil satu dan menyimpan satu. Bagaimana ketika satu di titik yang berbeda? Jika ada jalan maka satu dan satu akan bermuara pada titik yang hanya satu. Mari kita mencoba untuk membicarakan satu.

Satu dan Satu. Itulah genap.

"Pertama" 2014

Rabu, 01 Januari 2014

          Hey Shinichi! Hari ini kita banyak membicarakan kata "pertama". Yah, Salah satunya karena hari ini, hari pertama di tahun 2014. Kucoba menuliskan semuanya untuk pertama--di tahun 2014 dalam lembaran yang berbeda. Kau tahu kenapa? Karena aku seringkali berbicara tanpa berpikir; katamu. Makanya dari pada salah bicara, aku bercerita saja pada lembaran kosong. Dari rentetan dialektika 2013 kemarin aku ingin melipat semuanya dan menyimpulnya agak tak berceceran kemudian menghasilkan sedikit ungkapan--maaf kalau lagi-lagi aku terlalu banyak bicara. Aku punya banyak misi di depan, Kau pun demikian. Lebih tepatnya kita harus menyelesaikan semua teka-teki yang ada di depan. Aku punya mimpi yang berat tapi Kau punya tanggung jawab yang lebih berat. Tapi, jujur saja aku berat menerima kenyataan.
          Di awal semuanya aku masih saja bingung dengan keadaan. Kita seperti berada di antara batu besar. Huh! Jauh, jauh, jauh aku mulai mencoba menerima semua yang terjadi di tahun 2013. Kulipat dan kurenungkan. Kau selalu mengingatkan kala aku terbentur, begitupun kala kau terbentur. Tapi satu hal yang lebih berat ketika aku terbentur denganmu. Kau selalu memecahkan misteri-misteri; tak terkecuali misteriku. Tapi, hal yang sudah jelas-jelas nampak (red: batu besar) tak mampu kita pecahkan. Butuh--kita selalu memegang hal itu. Tak mungkin dihancurkan.

Hey!

Minggu, 15 Desember 2013

Kita terlalu sering berbicara tentang hujan, bukit, pantai apatah lagi senja.
Dapat kusimpul cerita.
Kita selalu saja ingin berada pada jejeran bunga-bunga yang wangi
Kita telah terbiasa merasakan sepoi angin yang sejuk
Kita tak jarang dimanjakan oleh keindahan yang manis
Kali ini aku ingin mengajakmu menepi kemudian berdiam di tengah terik matahari.
Berjalan di tengah pengapnya udara.
Coba pikirkan kembali!
Apa kau masih tertarik?
Berapa lama kita bisa bertahan?
Aku tertawa. Kau tertunduk lesu.
Dan ini bukan surga.
Tapi bukan berarti neraka.
Hey, Kau!

15.30/15-12-13


Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana?

Sabtu, 23 November 2013

Oleh: KH. Musthofa Bisri 
 
Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir

 

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai


Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Tentang Hidup

Minggu, 06 Oktober 2013

       Lama tak menjumpai diriku dalam cerita. Kali ini aku akan bercerita. Dua minggu menghilang dari peredaran dan berbulan-bulan tenggelam dengan keadaan. Aku banyak belajar tentang hidup. Walaupun aku masih berada dalam fase vakum. Dulu aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Lupa melakukan sesuatu untuk ayah, mama dan adik-adik. Tapi kini hidup drastis berubah. Aku terkadang diam bukan karena tak ingin melakukan apa-apa. Terkadang aku harus memilih. Seperti yang pernah orang katakan padaku bahwa "hidup itu untuk bergerak" dan setiap pilihan memiliki konsekuensi tinggal bagaimana pintar-pintarnya kita meminimalisir konsekuensi yang ada. Aku mulai menemukan diriku. Yah, menemukan diriku dalam diriku sendiri. Belajar hidup dengan segala konsekuensi. Sulit. Tapi bahagia ternyata jika kita mampu berpijak di
 

WHAT TIME IS IT?

Tags

Most Reading

VISIT

Followers