Kita terlalu sering berbicara tentang hujan, bukit, pantai apatah lagi senja.
Dapat kusimpul cerita.
Kita selalu saja ingin berada pada jejeran bunga-bunga yang wangi
Kita telah terbiasa merasakan sepoi angin yang sejuk
Kita tak jarang dimanjakan oleh keindahan yang manis
Kali ini aku ingin mengajakmu menepi kemudian berdiam di tengah terik matahari.
Berjalan di tengah pengapnya udara.
Coba pikirkan kembali!
Apa kau masih tertarik?
Berapa lama kita bisa bertahan?
Aku tertawa. Kau tertunduk lesu.
Dan ini bukan surga.
Tapi bukan berarti neraka.
Hey, Kau!
15.30/15-12-13
Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana?
Sabtu, 23 November 2013
Oleh: KH. Musthofa Bisri
Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir
Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir
Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan
Tentang Hidup
Minggu, 06 Oktober 2013
Lama tak menjumpai diriku dalam cerita. Kali ini aku akan bercerita. Dua minggu menghilang dari peredaran dan berbulan-bulan tenggelam dengan keadaan. Aku banyak belajar tentang hidup. Walaupun aku masih berada dalam fase vakum. Dulu aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Lupa melakukan sesuatu untuk ayah, mama dan adik-adik. Tapi kini hidup drastis berubah. Aku terkadang diam bukan karena tak ingin melakukan apa-apa. Terkadang aku harus memilih. Seperti yang pernah orang katakan padaku bahwa "hidup itu untuk bergerak" dan setiap pilihan memiliki konsekuensi tinggal bagaimana pintar-pintarnya kita meminimalisir konsekuensi yang ada. Aku mulai menemukan diriku. Yah, menemukan diriku dalam diriku sendiri. Belajar hidup dengan segala konsekuensi. Sulit. Tapi bahagia ternyata jika kita mampu berpijak di
Laki-Laki Penghuni
Selasa, 24 September 2013
Katakan sebelum subuh, Kau akan datang
Memperdengarkan suara-suara malaikat
Menyebar gelombang bunyi yang menggerakkan
Membisikkan sayup-sayup lembut yang menggetarkan
Katakan selepas magrib, Kau akan kembali
Mengetuk pintu yang tak pernah lagi terketuk
Di jalan yang tak lagi di basuh dengan tumpuan kaki
Kepada rumah yang tak lagi dihuni oleh laki-laki
Katakan diawal Isya, Kau akan ada
Mendendangkan dzikir di sudut sunyi
Menguntai do’a di tepi damai
Menjamu malaikat dengan wangi-wangi yang manja
Rindu (Not Mati)
Melodi
yang sangat menyayat
Ketika
berakhir pada not yang mati
Bernyanyi
rasa, mengalunkan bait
Bilakah
Kau tahu.
Satu
persatu not bergerak semakin cepat
Seperti
kejaran tarikan nafas
Beradu
memecah hening
Terkunci
mati ketika hela terhenti di ujung
Bukan
untuk tiada
Tapi
kalimat bertitik pada diam
Selepas
itu. Binasa termakan rindu.
Membunuh Aku
Aku
bukan segala
Ketika
Kau berlalu menghujam
Beratus-ratus
jeruji Kau patah
Layaknya
Hercules yang menghantam
Aku
bukan segala
Ketika
Kau (yang lain) mengapit
Beriringan
meremukkan batu dengan hati
Bukan
superhero tapi superior
Membunuhku
dengan persembahan.
Sore
Kamis, 12 September 2013
Oleh: Abd. Kadir Jaelani
Selalu banyak imaji tentang waktu sore,
Sebagai bentuk penghargaanku pada waktu sore,
Kuingin memandangi senja sambil merajuk mimpi tentang malam,
Sampai senja kembali pada pelukan sang malam
Menemukanku dalam napas penuh harap,
Jika toh senja belalu namun ada tapak yg terlupakan,
Dengan ini saya meminta maaf pada sang mentari
"AKJ"
Selalu banyak imaji tentang waktu sore,
Sebagai bentuk penghargaanku pada waktu sore,
Kuingin memandangi senja sambil merajuk mimpi tentang malam,
Sampai senja kembali pada pelukan sang malam
Menemukanku dalam napas penuh harap,
Jika toh senja belalu namun ada tapak yg terlupakan,
Dengan ini saya meminta maaf pada sang mentari
"AKJ"
Langganan:
Postingan (Atom)

