Deru angin
melambaikan kerudung jingganya. Membawanya berlalu. Hanya menyisakan jejak dan
seseorang yang mungkin saja belum mengenali wajah bermata sayu itu.
Lima belas tahun,
lama untuk menyulam benang-benang waktu. Memendam sebuah harapan. Asa untuk
dapat merangkul, menatapnya lekat-lekat dan memeluk tubuh hangatnya.
Kabar
tak lagi pernah menyentuh telinga. Hanya surat yang telah usang, tersusun dari
untaian butir-butir syair syahdu. Sebagai obat penenang.
Kini hari telah
beranjak dewasa. Masih terpaku di antara inai. Keletihan masih berbicara,
merongrong meminta agar lepas dari belenggu. Sisa-sisa pacuan hidup hingga
petang. Penyambung tali-tali hentakan nafas.
.jpg)
















