Bukan hal yang terlalu berat bagiku untuk menghampiri mereka walaupun air membentangkan jarak untuk aku dan mereka, yah.. untuk sekedar berbagi kebahagiaan apalagi setiap minggunya Sanggar Kelapa selalu memberikan kejutan. Aku pun kembali teringat suatu hari ketika aku menerima tawaran mengejutkan sebelum aku mengunjungi sanggar kelapa. Semoga Sanggar Kelapa selalu membuka ruang untukku (Kode keras untuk Divisi Humas dan Divisi Pembelajaran Sanggar Kelapa).
Sanggar Kelapa dan Eksotisme Kelurahan Lakkang
Kamis, 13 Juni 2013
Menikmati Abstraknya Kebenaran
Selasa, 11 Juni 2013
Biarkan
orang lain mengoceh sinis karena terkadang mereka tidak tahu apa yang
kita tahu. Kita hidup bukan dari ocehan orang lain, tapi kita memang
seringkali belajar hidup dengan ocehan yang dilandasi ketidaktahuan. Jika tak satu pun bersamamu, cukuplah Allah.
Suatu ketika di dalam satu lingkaran (red: perkumpulan) kau sedang memperjuangkan kebenaran dan kejelasan. Di saat itu pula lah kau menemukan situasi dimana kau tak mampu membedakan kawan dan lawan. Bukan karena kau tak tau mana kawan mu, tapi karena kau tak tahu dimanakah diantara mereka yang menjadi lawanmu. Karena semua sama adalah kawan.
Saat kau memulai kata. Mata-mata mulai menatapmu, kau tetap melanjutkan kata demi kata yang kau pikirkan dengan sebaik mungkin. Tapi, tetap saja ada pertentangan makna yang dibuat salah satu di antara kawan. Mungkin saja lawan, entahlah.. semua belum bisa terbaca.
Lontaran secara halus pun mulai berdatangan silih berganti. Menyakitkan memang, tapi kau mencoba menantang kesakitan itu. Menghadapinya dengan tenang, seperti ketika kau di dzalimi dahulu. Kau berkata "Kadang kita butuh ocehan pedas untuk belajar tentang hidup. Tapi, kita tak hidup dari ocehan-ocehan itu!" saat kau menceritakan ini pada seseorang kau pun berkata "Ayah ku pernah berucap, satu orang berusaha menjatuhkanku. Akan ada seribu orang yang mengangkatku!"
Sebuah dialektika memang ketika seseorang menyimpan kebenaran dan kebaikan (teringat kata seseorang) maka diantara 10 orang mungkin hanya satu yang bersamamu atau bahkan 10 orang itu malah bergotong royong untuk menggoyahkan kekokohan peganganmu.
Ketika mereka berucap, kau pun mendengarnya dengan lapang dada, sampai-sampai kau melupakan apa yang seharusnya kau katakan untuk menyelamatkan dirimu. Saat usai benakmu kembali menemukan sesuatu "terkadang mereka tidak tahu apa yang
kita tahu!" kau pun teringat tentang kutipan pada sebuah film dan berkata padaku "terkadang kejelasan terlihat tidak jelas" aku mengerti maksudmu. Memang benar adanya ketika tak seorang pun bersamamu cukuplah Allah, karena suatu saat Allah akan menunjukkan kejelasan yang bersembunyi di balik ketidakjelasan itu.
SANGGAR KELAPA: Melukis Sore dengan Pasir
Senin, 10 Juni 2013
Semangat
tak terkira mengantarkanku di hari minggu saat pagi bergerak menemui siang.
Sudah beberapa kesempatan kulewatkan untuk mejumpai keadaan agar jatuh pada
waktunya di tempat itu. Ketika siang menjelang rentah aku telah sampai di dermaga
untuk “berlayar” (istilah yang sering kusebut ketika harus menyeberangi sungai
menuju tempat itu).
Sekitar 20 menit menghabiskan waktu mengarungi bentangan
air, aku pun menginjakkan kaki di kelurahan (red: Lakkang) yang menurutku cukup
unik. Bukan pertama kalinya aku ke sana tapi tetap saja tempat itu membawa
kesan eksotik. Mendung pun menjemput kedatanganku. Menemaniku menanti waktu
untuk berhadapan dengan sosok-sosok mungil di tempat itu.
Sanggar
Kelapa, mereka menyebutnya begitu. Selang beberapa menit setelah aku datang, Kakak
Ikhsan (pengajar tetap di Sanggar kelapa) pun tiba. Sembari menanti waktu belajar
kami melakukan briefing untuk mempersiapkan dan mengolah konsep belajar untuk
teman-teman kecil.
Melukis
dengan pasir, itulah tema untuk hari ini. Kami mulai mempersiapkan bahan ala
kadarnya untuk melukis dengan pasir kemudian bergegas menuju lokasi. Awalnya kami berpikir kemungkinan hari ini tidak ada anak-anak sanggar yang akan datang
karena sejak tiba di Lakkang mendung telah menjamu kami. Ternyata dugaan kami
salah, antusias mereka masih nampak untuk menyambut kejutan dari kakak-kakaknya.
Walau separuh dari mereka tidak hadir, sore itu tetaplah menyenangkan.
Celotehan-celotehan nyaring dan polos dari mereka sangat membahagiakan kami,
terutama “saya” yang untuk pertama kalinya bertamu ke rumah mereka.
Sebelum
melukis anak-anak sanggar dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok di dampingi
olehku. Mereka pun memulai kegiatan melukis dengan pasir. Tak mau ketinggalan
kakak-kakaknya ikut melukis, terutama Kakak Ujhe semakin menunjukkan
eksistensinya dalam gambar-menggambar. Seru, melukis dengan pasir mengembangkan
kreativitas anak-anak tersebut. Melukis dengan pasir menunjukkan sisi berbeda
dari sebuah karya seni berupa gambar, bahwa gambar bisa tercipta dari sesuatu
yang sederhana namun dapat menghasilkan nilai seni yang jauh lebih tinggi.
Sanggar
Kelapa, tawa dan kebahagiaan sore menjelang petang.
Profil: Ibu Een (Pendidikan Berbasis Kasih Sayang, Pesan untuk Para Calon Pendidik)
“Pendidikan
berbasis kasih sayang. Saya tidak punya apa-apa yang bisa diberikan selain
kasih sayang”
Itulah kutipan dari
sosok yang tak pernah mengenal lelah ditengah keterbatasannya. Ibu Een
mengabdikan dirinya untuk orang banyak saat kita lupa akan arti kesyukuran, saat kita
tidak tahu kata ikhlas, saat kita tak mengenal kata peduli.
Di era modern ini kita
terkadang tak mampu lagi membedakan sosok pendidik dan sosok yang tak terdidik
(miris memang) tapi, itulah realita yang harus kita saksikan.
Siapakah Ibu Een? Dialah
Oemar Bakriwati bahkan melebihi Oemar Bakri. Ibu Een alumni SPG Negeri Sumedang
dan kemudian melanjutkan ke IKIP Bandung mengambil jurusan psikologi pendidikan
dan bimbingan. Ibu Een terserang penyakit Rheumatoid arthritis (radang sendi) sejak
masih duduk dibangku kuliah. Sudah 28 tahun Ibu Een mengalami lumpuh total
namun selama itu pula beliau mengabdikan hidupnya demi kecerdasan anak-anak
bangsa.
Walaupun gagal menjadi guru di sekolah karena kelumpuhannya tapi di luar pendidikan formal beliau berjuang dengan penuh ikhlas, mendidik dengan kasih sayang. Walaupun hanya dengan berbaring tapi beliau tetap punya semangat untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Tanpa mengeluh beliau mendidik, dan tanpa mengharap apapun selain ridho Tuhan beliau berbagi pengetahuan bersama malaikat-malaikat kecil yang ada di sekelilingnya.
Peraih anugerah Liputan6 Award ini, tak punya apa-apa untuk dibagikan selain kasih sayang sebagai bentuk kepedulian terhadap orang lain. Jika kita kembali pada kenyataan, sosok pendidik seperti Ibu Een mungkin masih bisa dihitung jari. Masalah-masalah pendidikan yang ada sekarang ini bukan kah bercermin pada kasih sayang dalam pendidikan yang jarang kita temui.
Pendidikan memang harus
dilandasi dengan hati seperti yag dikatakan pepatah apa yang kau semai itu pula
yang engkau tuai. Begitu pun dalam mendidik, apa yang kita berikan akan kembali
pula imbasnya pada genarasi-generasi berikutnya.
Mari kita kembali
refleksikan, siapkah kita menjadi pendidik yang ikhlas, niat yang tulus dan
mengedepankan pendidikan berbasis kasih sayang?
Fly Over Makassar Menyala
Kamis, 02 Mei 2013
Saya lupa sesuatu. Banyak hal yang sudah terlewatkan namun tidak sempat saya ceritakan. Ketika mengutak-atik blog ini saya beru teringat. Jum'at lalu saya berada di tengah-tengah orang yang menyalakan makassar. Bisa dibilang ini kegiatan seru, pengalaman baru.
Berdiri di tengah orang-orang yang memiliki semangat yang MENYALA ^_^
Jum'at sore, saya, fly over Makassar dan segala perhatian sekitar
Mari Kita Buat Janji
Minggu, 17 Februari 2013
Kenapa waktu tidak bisa menungguku sebentar saja?
kalau tak bisa menunggu,
aku berharap sang waktu bisa berkompromi denganku..
Atau bisa tidak gugurkan daun itu sekarang juga..
Kalau bisa dijatuhkan dengan hujan, kenapa harus menunggu digugurkan angin?
Waktu...
Kali ini saja, mari kita buat perjanjian.
Mimpi Buruk
Minggu, 27 Januari 2013
Lagi-lagi Kau memaksaku bermimpi
Merangkai sendiri.
Sering aku berteriak
Seperti orang gila
Kau hanya berbalik
Lalu, tak mengenaliku
Mungkin saja aku sudah tak terlihat
Tapi, rohku masih di jasad
Atau kita memang sudah berbeda alam?
Kau tegak di puncak gunung
Aku tersungkur di tepi pantai
Kupu-kupu datang padamu
Berbisik, aku tak lagi baik
Kura-kura menghampiriku
Berkata dengan lantang
Kau selalu berharga
Mimpi buruk,
Kau tetap saja membuatku terjaga
Memasungku dalam ruang sempit.
------------
Merangkai sendiri.
Sering aku berteriakSeperti orang gila
Kau hanya berbalik
Lalu, tak mengenaliku
Mungkin saja aku sudah tak terlihat
Tapi, rohku masih di jasad
Atau kita memang sudah berbeda alam?
Kau tegak di puncak gunung
Aku tersungkur di tepi pantai
Kupu-kupu datang padamu
Berbisik, aku tak lagi baik
Kura-kura menghampiriku
Berkata dengan lantang
Kau selalu berharga
Mimpi buruk,
Kau tetap saja membuatku terjaga
Memasungku dalam ruang sempit.
------------
Langganan:
Postingan (Atom)



