Pages

SINOPSIS: SWADES dan Cerita Tentangnya

Sabtu, 12 Januari 2013


Sedikit tidak banyak Saya ingin menuliskan tentang satu hal. Saat yang lain terlelap. Film itu betul-betul membuat saya tidak tidur hingga menjelang subuh. Bukan hanya karena durasinya yang panjang. Tapi sungguh, film ini benar-benar menarik. SWADES. Film itu telah berhasil membuat saya melek sampai dini hari.
Saya menyukainya, seperti halnya ketika Saya menuliskan namanya Shahrukh Khan. Sama seperti kebanyakan filmnya yang lain. Dia selalu saja membuat saya terkagum-kagum. Dan ikut terbawa alur cerita yang dia mainkan.
Swades is a nice film. Kalimat itulah yang Saya tuliskan di akun twitter saya. Bukan hanya karena dia. Lelaki yang bisa memutar logika Saya tentang dunia film. Dan realitanya film India. Dia bukan hanya memiliki karakter tapi mampu mengkarakterkan film-filmnya. Ok. Kembali ke film. Swades betul-betul film yang mengesankan buat saya saat ini.
Berkisah tentang seorang pemuda India yang bekerja di NASA. Konflik terjadi ketika dia memutuskan untuk kembali ke India mencari wanita yang pernah mengasuhnya sejak kecil ketika ayah dan ibunya masih hidup. Baginya wanita itu adalah ibu kedua untuknya. Dia berniat untuk membawa wanita itu tinggal bersamanya di Amerika.
            Namun, kenyataan berbeda terjadi setibanya di India, dia menuju ke sebuah desa tempat dimana ibu keduanya itu menetap. Di desa tersebut banyak hal dan pelajaran yang dia lalui. Dia melihat suatu kondisi yang memperihatinkan terjadi di negaranya. Berbeda halnya di Amerika. Orang-orang di negaranya (India) merasa bangga dengan kebudayaan yang mereka miliki namun kurang memahami arti pendidikan dan kemajuan bagi generasinya. Kasta salah satu yang menjadi singgungan dalam film ini. Selain itu sorotan terhadap kemiskinan di belahan daerah di India menjadi sesuatu sangat menarik, mebuat saya teringat dengan keadaan Indonesia saat ini.
            Mohan begitulah dia disebut dalam film Swades. Mohan melakukan banyak perubahan di desa itu. Tapi, NASA memanggilnya kembali untuk menyelesaikan proyek besarnya di Amerika yaitu sebuah satelit.
Mohan merasa berat meninggalkan India bukan hanya karena Khavariamma (wanita tua yang sangat dirindukannya) yang memutuskan untuk tidak ikut bersamanya ke Amerika, tapi karena dia juga bertemu dengan sosok gadis cantik bernama Gita. Seorang pengajar pada sekolah yang ada di desa tersebut.
Setelah proyeknya dengan NASA berhasil dia memutuskan untuk kembali ke India bukan hanya karena kecintaannya pada Khavariamma, kecintaannya kepada gadis yang bernama Gita, tapi terlebih karena kecintaannya kepada negaranya.
Film Swades ini mengajarkan banyak hal di antaranya Knowlidge, Education, Nasionalism, politic, Love, HAM dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya, tonton filmnya, temukan konflik yang komplit (bukan sekedar film India) dan saksikanlah kisah drama yang unik. Banyak pelajaran yang bisa dipetik. Di jamin seru! 

Lupa

Senin, 07 Januari 2013

Malam di tengah derasnya hujan menjemput rentah
Baru saja kalap dengan emosi..
Melahap segala apa yang ada dihadapan
Bukannya aku marah
Aku hanya mencari sedikit tawa dan kebahagian
Tapi titik hitam membuyarkan segalanya
Kala harap tak bisa dipenuhi
Bukan aku kecewa dengan kekurangan
Tapi aku muak dengan usaha
Ah, manusia memang tak ada puasnya
Begitu pun aku
Saat keingingan tak terwujud
Aku selalu saja menghakimi
Menghukum dengan serentetan kata
Membenci dengan sederet prasangka
Aku lupa, tak ingat dengan semua yang telah lalu
Engkau dengan segala apa untukku

#Lupa, masih saja dengan lupa

Puisi Rusak

Kamis, 03 Januari 2013



            Selesai.
            Puisi itu telah mendapat tempatnya sekarang
            Bukan aku sengaja menepikan
            Tapi Kau yang meminta.
            Kala bait-bait itu telah berjejer membentuknya
            Kemudian kucoret lagi..
            Bait pertama, dua bait, tiga bait..
            Habis..
            Seperti habisnya kata-kataku
            Kau telah jauh, kembali dan bertanya
            Itu untukku?
            Yah, memang untukmu!
Dan Kau tahu, kosong
Tersisa kertas kosong
Seperti kosongnya hatimu
            Bisakah Kau menyusunnya lagi?
            Seprtinya tidak akan pernah, Aku bahkan lupa siapa dirimu
            Hilang ingatan? Layaknya do’amu dahulu
            Mungkin. Tapi,
            Aku hanya ingat kalimat ini
            Jangan berbahasa sastra padaku karena aku tak mengerti”
           

Hentikan Pembicaraan Ini!

Selasa, 06 November 2012

Aku bukan tak ingin mendengar
Seperti duri-duri tajam saja yang mengalun di kuping
Ini tidak sama halnya ketika aku menyayat dengan gertak
Lebih pedih.

Percuma membual
Kau sendiri tak mampu lepas dari kerangkeng sajak-sajak hitam
Aku malu. Tapi kau tak lebih dari setangkai putri malu.
Laki-laki berkedok. 

Hmm. Setiap langkah berbalik memesona
Tak luput kata yang terurai indah
Kuberi garis merah. Lurus menghiasi hitam itu
Nampak lebih baik. Hentikan pembicaraan ini.


Penjilat

Senin, 05 November 2012

Lidah-lidah jalang memecah pagi.
Remukkan pesakitan-pesakitan
Menanti, meraung kelaparan.
Dahaga terpenjara oleh kucuran air peluh
Tak mungkin dijilati.

Lidah-lidah jalang membungkus terik
Membagi hati dan tak sepenuh hati
Tetap saja meretakkan kristal biasan
Embun telah menguap
Apa harus kembali menjilat?

Lidah-lidah jalang bersilat
Merayu dengan bujukan licik
Jangankan bergerak, bergetar pun tidak
Bulir bening menari di sepasang jendela kecil
Menanti tertumpah. Dia keluar dan habis perkara. Kalah.

Tentang Benci

Senandung malam mulai letih
Dia beranjak meninggalkannya
Satu detik, dua detik, tiga detik
Semakin rentah menjemput binar-binar mentari

Kali ini berbeda, kusaksikan dia masih bertahan
Tak jua terjaga dengan kengerian pagi
Beban di pelupuk mata belum bisa mengantarkannya
Masih menanti lahirnya tautan kata demi kata

Bisakah aku meminjam sebuah pena?
Bekas saja yang penting darimu. Dalam hatinya.
Akh, tidak. Kenapa aku harus meminjamnya darimu?
Bukankah kau yang telah mencurinya dariku

Perempuan pencuri. Laki-laki perampas.
Kali ini lagi-lagi berbeda. Pencuri penaku. Perampas hatiku.
Akhirnya, menjumpai lagi
Pertemuan yang berakhir dengan melonglongkan kebencian

*Lagi-lagi tentang benci itu

Sumpah Pemuda di Somba opu

Sabtu, 03 November 2012

            Minggu, 28 Oktober 2012. Hari yang spesial bagi para pemuda. Hari Sumpah Pemuda. Jika dahulu para pemuda memprakarsai tanggal bersejarah tersebut dengan pengakuan bahwa mereka adalah satu. Satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sekarang giliran kita para generasi muda yang mengisinya melalui karya dengan segala kesempatan dan kreativitas yang ada.


         Momentum hari sumpah pemuda di Makassar kali ini bisa saya katakan lebih berkesan dari pada biasanya. Menilik kemajuan teknologi dan peradaban yang semakin berkembang pesat, membuat kita bergerak cepat dan terkadang meninggalkan budaya-budaya luhur yang sebenarnya sangat berharga, unik dan merakyat. “Awas kehilangan jati diri!” itulah kalimat peringatan untuk kita semua.

Suatu kebanggaan tersendiri bagi rakyat Indonesia ketika di antara kita generasi muda, masih ada yang peduli dengan kebudayaan-kebudayaan Indonesia yang mulai luntur, nyaris lenyap bahkan mungkin banyak di antara kita yang sudah tidak mengenali kebudayaan-kebudayaan tersebut, tak terkecuali permainan tradisional. Hal tersebutlah yang sepertinya mendorong Komunitas Jalan-Jalan Seru (JJS) untuk mengadakan kegiatan Makassar Tradisional Games Festival 2012 (MTGF 2012).
Kegiatan MTGF 2012 yang berlangsung di Benteng Sumba Opu Makassar cukup menyita perhatian banyak pemuda. Dalam kegiatan tersebut mereka bisa kembali mengenang permainan-permainan sederhana yang sempat mengisi masa-masa kecil mereka. Permainan tersebut di antaranya ma’boy, mang’asing, maggoli’, lambasena, dende-dende, majjeka dan permainan-permainan tradisional khas Makassar lainnya.

Di tengah keseruan dan kehebohan para remaja serta orang dewasa yang sedang bermain, terlihat pula anak-anak kecil yang sedang lalu lalang mencoba berbagai permainan, berbaur di tengah kerumunan orang-orang yang usianya terpaut jauh dari mereka. Anak-anak kecil itu sepertinya sengaja dibawa dalam kegiatan tersebut agar mereka bisa mengetahui dan mengenal permainan-permainan tradisional yang sangat seru dan menyenangkan. Dan terang saja, mereka berhasil hanyut dalam kegiatan tersebut. Terlihat anak-anak yang sedang membawa tali karet, telihat pula anak kecil yang sedang mencoba bermain engran, dan anak kecil yang sedang berdiri mematung menyaksikan orang-orang dewasa yang sedang bermain asing-asing.
 
Seperti halnya yang dilakukan oleh Komunitas Skholatanpabatas (STB). Kakak-kakak relawan STB sengaja membawa anak-anak panti agar mereka bisa berjalan-jalan sekaligus dapat bermain dan merasakan keseruan kegiatan MTGF 2012. Menurut salah satu relawa STB “Selama ini anak-anak semakin tenggelam dalam kemajuan teknologi dan dunia gadget sehingga nyaris tidak mengenali permainan tradisional daerah mereka.”

Selang beberapa saat permainan harus terhenti karena guyuran hujan. Namun, kegiatan yang dijadwalkan mulai dengan registrasi pada jam 11.00 wita ini kembali dilanjutkan ketika hujan mulai reda. Semarak sumpah pemuda sangat terasa dikalangan pemuda Makassar berkat MTGF 2012. Tak hanya keseruan tapi hadiah menarik telah disiapkan bagi para pemenang permainan-permainan tersebut. Semoga kegiatan-kegiatan serupa lebih sering lagi diadakan oleh para generasi muda dan pemerhati kebudayaan tradisional sebagai bentuk penghargaan dan rasa cinta terhadap warisan para pendahulu kita. Sampai jumpa di MTGF 2013.


           
           
 

WHAT TIME IS IT?

Tags

Most Reading

VISIT

Followers